Pertamina NRE dan Hitachi Energy Berkolaborasi Kembangkan Teknologi Konservasi Energi

Congnghenews, Jakarta – Pertamina Energi Baru dan Terbarukan (Pertamina NRE) mengumumkan kerja sama dengan perusahaan teknologi global di bidang ketenagalistrikan yaitu Hitachi Energy.

Kerja sama antara Pertamina NRE dan Hitachi Energy terkait konservasi energi dan inovasi sistem ketenagalistrikan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman pada Senin (22/1).

Baca juga: Dorong transisi energi, Pertamina tuan rumah sekolah energi mandiri pertama di Papua

Ditandatangani oleh CEO Pertamina NRE Dannif Danusaputro dan Country Manager Hitachi Energy Indonesia Predrag Grupkovic.

Dalam kerja sama tersebut, keduanya sepakat untuk meneliti dan mengembangkan solusi inovatif yang dapat diterapkan di berbagai bidang, termasuk pengelolaan sumber daya energi dan konservasi energi di lingkungan Pertamina NRE.

Baca Juga: Pertamina Kenalkan Desa Wisata Binaan dan Produk UMKM Pilihan di Pameran di Belanda

Direktur Utama Pertamina NRE Dannif Danusaputro mengatakan kolaborasi strategis ini mencerminkan komitmen pihaknya dalam mengadopsi teknologi inovatif guna meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi dampak lingkungan.

“Kami yakin kerja sama dengan Hitachi akan meningkatkan nilai Pertamina NRE dan membawa manfaat besar bagi industri energi di Indonesia,” kata Denif Dansputro dalam keterangannya, Selasa (23/1).

Baca Juga: Kolaborasi Pertamina dan Toyota Kembangkan Ekosistem Hidrogen untuk Transportasi

Bersama Danif, Pradrag juga menyambut baik kesempatan untuk berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

“Hitachi Energy bangga dapat bermitra dengan Pertamina Energi Baru dan Terbarukan untuk membantu Indonesia melakukan transisi energi penting menuju masa depan energi berkelanjutan,” kata Predrag di acara yang sama.

Ia yakin kolaborasi ini akan membantu upaya mitigasi iklim Indonesia dengan mempercepat transisi energi.

Predrag menekankan dukungan perusahaan untuk mempercepat transisi energi guna mencapai target penurunan emisi Indonesia pada tahun 2060.

“Kami telah mendukung perjalanan Indonesia menuju netral karbon, dan kami berharap perjanjian kerja sama ini dapat memberikan kontribusi lain dalam transisi energi dengan mendorong kerja sama antara Hitachi Energy dan Pertamina Energi Baru dan Terbarukan.”

Salah satu fokus utama kerja sama ini adalah pengembangan teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi jejak karbon kegiatan EBT Pertamina.

Hitachi Energy akan berbagi ilmu dengan Pertamina NRE mengenai topik terkait sistem tenaga listrik dan energi baru terbarukan.

Selain itu, kerja sama juga akan melakukan kajian teknis bersama tingkat makro mengenai energi baru dan terbarukan, sistem tenaga listrik hybrid, keandalan dan manajemen energi di pembangkit listrik Pertamina NRE.

Bagi Pertamina NRE yang menjalankan bisnis ramah lingkungan, inovasi teknologi merupakan aspek yang sangat penting dan strategis.

Untuk itu, kolaborasi dengan Hitachi Energy merupakan langkah yang tepat, khususnya dalam hal pemantauan transisi energi di Indonesia dan mendukung pencapaian ambisi Net Zero Emission 2060.

Hal ini sejalan dengan komitmen Pertamina NRE dalam menerapkan aspek ESG dalam operasional bisnisnya.

Vice President PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso menambahkan, kerja sama dengan Pertamina NRE ini merupakan komitmen Pertamina untuk mengurangi emisi karbon dan meningkatkan transisi energi di Indonesia.

Sebagai pemimpin transisi energi, kata Fadjar, Pertamina terus menjajaki inovasi dan peluang baru, termasuk mendorong pencapaian tujuan net zero emisi di Indonesia melalui koordinasi dan kolaborasi dengan berbagai mitra.

“Ini juga yang menjadi fokus Pertamina NRE dengan bisnisnya di bidang energi baru dan terbarukan,” jelas Fadjar.

Di Indonesia, Hitachi Energy telah mendukung infrastruktur ketenagalistrikan selama lebih dari 30 tahun.

Perusahaan juga terlibat dalam beberapa proyek transisi energi, termasuk proyek microgrid di Nusa Penida, Bali, yang salah satunya dipamerkan pada KTT G20 di Bali. (mrk/jpnn)

Melihat Strategi Bank Mandiri Jaga Pembiayaan Hijau pada 2024

Congnghenews, Jakarta – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) berencana menjaga pertumbuhan kredit berkelanjutan (pinjaman permanen), termasuk portofolio ramah lingkungan, agar selalu melebihi 10 persen.

Misalnya, kredit berkelanjutan di Bank Mandiri akan tumbuh sebesar 15,4 persen y/y pada tahun 2023 dibandingkan tahun sebelumnya.

Wakil Presiden Bank Mandiri Alexandra Askandar menjelaskan tujuan Bank Mandiri dalam menumbuhkan pinjaman berkelanjutan sejalan dengan rencana transisi energi pemerintah Indonesia.

Rencana Bank Mandiri untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan melibatkan nasabah secara aktif dalam proses transisi energi.

“Sejak tahun lalu, Bank Mandiri telah memiliki ESG Desk sebagai contact point bagi nasabah khususnya segmen retail, dimana kami menawarkan solusi keuangan berkelanjutan, termasuk green loan, dukungan, serta nilai tukar perusahaan, dan sebagai seorang karyawan, penasihat klien dalam penciptaan proses-proses ESG, “kata Alexander pada presentasi kinerja Bank Mandiri, Rabu (31/1/2024).

Sejalan dengan hal tersebut, Bank Mandiri terus menjadi mitra utama nasabah dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon. Dalam mendukung sektor energi atau sektor fosil seperti batu bara, Bank Mandiri selalu berupaya memastikan proyek-proyek yang didukungnya berkelanjutan dan sejalan dengan prinsip transisi energi net-zero dari pemerintah.

Pada tahun 2023, portofolio kredit bergulir Bank Mandiri akan mencapai 8 triliun rupiah, atau meningkat sebesar 58,7 persen selama lima tahun terakhir. Selain itu, portofolio fleksibel Bank Mandiri telah mencapai 25 persen dari total kredit di sektor energi. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan target energi terbarukan pemerintah Indonesia sebesar 13 persen pada tahun 2023.

Hingga akhir Desember 2023, total portofolio aset berkelanjutan Bank Mandiri mencapai Rp264 miliar dan pangsa pasarnya terus meningkat.

Dari jumlah tersebut, segmen portofolio hijau mencapai 129 triliun rupiah, naik 21,4 persen per tahun, dan portofolio sosial mencapai 135 triliun rupiah, naik 10,6 persen per tahun.

Secara keseluruhan, portofolio berkelanjutan Bank Mandiri telah meningkat sebesar 15,4 persen sejak tahun 2022. Dana hijau tersebut menyasar sektor-sektor berkelanjutan seperti energi terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga air, panas bumi, transportasi, dan lingkungan hidup, serta persewaan mobil listrik dari atas hingga bawah.

Peningkatan sektor energi terbarukan pada tahun 2023 sangat signifikan yakni sebesar 58,2 persen y/y dibandingkan tahun 2022. Bukti nyata lainnya adalah pada akhir tahun 2023 Bank Mandiri menandatangani kontrak hijau dengan PT PLN Persero untuk melakukan transisi ke energi.

Dalam pemberian pinjaman ini, Bank Mandiri terpilih sebagai Manajer Investasi Green Credit dan Green Loan untuk mendukung upaya PLN dalam usaha dan operasional yang lebih ramah lingkungan.

“Peningkatan ini merupakan wujud komitmen Bank Mandiri dalam mendukung tujuan terpenting pemerintah, termasuk menjamin ketersediaan energi nasional dan mendorong investasi di sektor energi baru dan terbarukan untuk mendukung promosi transisi energi,” kata Alexandra.

Sebelumnya diberitakan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) berencana menumbuhkan kredit sebesar 13-15 persen pada tahun 2024. Target tersebut mengacu pada landasan kuat dan rencana strategis perusahaan yang baik. Di sisi lain, keyakinan tersebut sejalan dengan ekspektasi perekonomian Indonesia yang akan tetap positif pada tahun 2024 di kisaran 5 persen.

“Pedoman yang bisa kita berikan untuk pertumbuhan kuat terutama terkait pinjaman atau kredit dengan kontribusi 13-15 persen YoY. Lalu, margin bunga bersih (NIM) di kisaran 5,3-5,5 persen, dan belanja kredit ( CoC) ) pada kisaran 1-1,2 persen,” kata Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidhi dalam pemaparan kinerja Bank Mandiri, Rabu (31/01/2024).

Tahun ini, Bank Mandiri akan melanjutkan strategi pertumbuhan kredit yang telah diterapkan dalam tiga tahun terakhir. Artinya, pertama, terus memperkuat sebagian besar lingkungan bisnis. Kedua, menumbuhkan bidang usaha melalui sistem ekologi dan sistem nilai pada sektor unggulan di setiap daerah.

Ketiga, terus mengembangkan strategi digital berkelanjutan untuk Livin, Livin Merchant, Kopra dan Smart Branches, terutama untuk mendorong pertumbuhan CASA. Keempat, meningkatkan hubungan dengan anak perusahaan, mulai dari pemasaran, optimalisasi proses bisnis menggunakan teknologi dan perangkat intelijen hingga prinsip-prinsip manajemen risiko perusahaan induk.

Adapun sektor-sektor yang tergolong sektor menjanjikan dan menjadi salah satu sumber utama Bank Mandiri antara lain adalah sektor makanan dan minuman, sektor kesehatan, serta sektor pertanian dan tanaman pangan. Selain itu juga untuk menunjang kinerja Bank Mandiri. Dalam implementasi ESG, kemajuan penyaluran kredit juga akan fokus pada kegiatan usaha yang memperhatikan isu-isu berkelanjutan terkait lingkungan dan hubungan sosial, tambah Darmawan.

Selain itu, Bank Mandiri memperkirakan pertumbuhan pertumbuhan simpanan di sektor perbankan akan relatif positif pada tahun ini. Hal ini didorong oleh situasi perekonomian yang positif di Indonesia, dan pelaksanaan belanja pemerintah terkait pemilu.

“Meskipun kami masih mewaspadai risiko pelemahan perekonomian global yang dapat berdampak negatif terhadap positifnya neraca perdagangan Indonesia yang merupakan salah satu sumber utama aset DPK dalam negeri. Kami memperkirakan pertumbuhan DPK Bank Mandiri sebesar lebih tinggi dari rata-rata industri,” kata Dharmavan.

Dari sisi pengelolaan keuangan, posisi keuangan Bank Mandiri terjaga dengan baik, tercermin dari LDR bank tersebut saja yang berkisar 86,75 persen. Ke depan, Bank Mandiri akan terus menjaga kecukupan likuiditas dan meningkatkan likuiditas.

Di tengah meningkatnya krisis ekonomi global, Bank Mandiri menjawab tantangan likuiditas tahun ini dengan fokus pada peningkatan efisiensi sistem keuangan.

“Dengan sistem keuangan yang baik, kami memastikan tersedia cukup dana yang dapat digunakan untuk mendukung pertumbuhan kredit dan mendorong perkembangan perekonomian Indonesia lebih lanjut,” kata Dermawan.

Apabila diperlukan, Bank Mandiri juga dapat memberikan perlindungan utang sebagai bagian dari upaya bank mencapai pembiayaan yang stabil, jangka menengah, dan panjang.

Hingga Desember 2023, Bank Mandiri juga memiliki sisa fasilitas penerbitan green bond atau obligasi hijau berkelanjutan 1 sebesar Rp5 triliun dari total perumahan sebesar Rp10 triliun. Selain itu, Bank Mandiri juga memiliki cap space untuk program Euro Medium Term Note (EMTN) sebesar US$ 2,15 miliar dari total US$ 4 miliar.